Jumat, 29 Oktober 2010

NIKMATNYA MINUM TUAK ( DON'T TRY THIS AT HOME )




Horas halak Hita.. Hari ini aku menyajikan tulisan mengenai Tuak... ha..ha.. Soalnya minuman ini tergolong nikmat.. katanya sich bagi yang pernah meminumnya. Minuman ini memang tidak bisa saya lupakan karena banyak history yang saya alami di dalamnya. Karena hidup saya dahulu dan sekarang mungkin nantinya tidak jauh-jauh dari TUAK. Maaf ya saya menyajikan tulisan ini bukan berarti saya menyatakan saya Maniak Tuak, tapi boleh lah sekali-kali. Kalo dah minum tuak yang saya rasakan paling enak nyanyi bareng teman-teman, tarik lagunya lae.. Lisoi-lisoi minum ma Tuak Mi...ha..ha.. Ada cerita humor dalam minum Tuak coba simak :

SATU GELAS TUAK, PENAMBAH DARAH
DUA GELAS TUAK, LANCAR BICARA
TIGA GELAS TUAK, MULAI TERTAWA-TAWA
EMPAT GELAS TUAK, MENCARI GARA-GARA
LIMA GELAS TUAK, HATI MEMBARA
ENAM GELAS TUAK, MEMBUAT PERKARA
TUJUH GELAS TUAK, SEMAKIN MENGGILA
DELAPAN GELAS TUAK, MEMBUAT SENGSARA
SEMBILAN GELAS TUAK, MASUK PENJARA
SEPULUH GELAS TUAK, MASUK NERAKA

Ha..ha.. Itulah Efek mimatnya minum Tuak, bagi yang tidak dapat mengontrolnya harap jangan pernah minum Tuak karena berbahaya bagi anda dan bagi orang di sekeliling anda, dan bagi anda meminumnya dan tidak mengontrol diri terpaksa saya akan sadar kan dengan menceburkan anda ke got-got yang terdekat dan ini pernah saya alami  di kost-kostan saya di medan, saya ceburin aja ke got selesai perkara..ha..ha..Malah ada Efek minum Tuak yang membuat nyawa anda melayang seperti yang pernah terjadi dalam kehidupan saya, ini lah yang terjadi akibat supir minum TUAK. Scary Accident will be Nightmare in Your Life..
Figure (Scary accident in journey Km. 45 -Km. 33)
Okelah kalo begitu, dibawah ini saya menyajikan pengenalan Tuak dan mamfaatnya bagi kesehatan


Tuak atau juga disebut arak di nusantara adalah sejenis minuman yang merupakan hasil fermentasi dari bahan minuman/buah yang mengandung gula. Tuak sering juga disebuat pula arak adalah produk yang mengandung alkohol. Bahan baku yang biasa dipakai adalah: beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira kelapa atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain.
Kadar alkohol berbeda-beda bergantung daerah pembuatnya. Arak yang dibuat di pulau Bali yang dikenal juga dengan nama brem bali, dikenal mengandung alkohol yang kadarnya cukup tinggi.
Beberapa tempat di Pulau Madura dahulu dikenal sebagai sebagai penghasil tuak, namun orang Madura tidak mempunyai kebiasaan minum yang kuat. Saat ini dapat dikatakan sangat sedikit orang Madura yang minum tuak atau arak.
Masyarakat Tapanuli (Sumatera Utara), khususnya masyarakat beretnis Batak menganggap bahwa Tuak berkhasiat menyehatkan badan karena mengandung efek menghangatkan tubuh.

Jumat, 22 Oktober 2010

MAMFAAT DAGING TUPAI BAGI KESEHATAN

COBA PERHATIKAN SKEMA PROSES PENGOLAHAN DAGING TUPAI DI BAWAH INI




Gbr. 1 ( Perburuan Daging Tupai )

 Gbr. 2 ( Pengolahan Daging Tupai )

Gbr. 3 ( Menyantap Daging Tupai " Enak ya Melll ")

lihat situs lengkapnya pada link dibawah ini

Pengobatan Herbal / Herba Diabetes Mellitus
Daging tupai atau bajing terus dicari masyarakat. Daging binatang pemakan kelapa itu diyakini mampu menyembuhkan berbagai penyakit, seperti sakit gula, ginjal, dan kanker. Daging bajing ternyata diyakini mempunyai efek menetralisir gula darah!
Tupai hasil buruan atau beli di pasar dapat langsung diolah. Setelah disembelih, kukunya dipotong dan dipisahkan antara kulit dan daging. Lalu dipisahkan antara daging, otak, hati dan empedunya, karena masing-masing mempunyai khasiat tersendiri.
Cara penyembuhan berbagai penyakit dengan daging tupai cukup sederhana. Setelah disembelih dan dibersihkan, daging tersebut cukup direbus dengan air. Kemudian airnya diminum.
Dagingnya juga digoreng dan dimakan.
Selain itu banyak orang percaya bahwa daging tupai memiliki khasiat untuk penambah stamina dan dipercaya mampu membantu proses penyembuhan bagi penderita diabetes.
Otak tupai dapat mengobati anak terbelakang mental. Sementara janin tupai berkhasiat mengobati wanita mandul. Sedangkan daging tupai jika dimakan secara teratur dapat mengobati penyakit diabetes, kanker, rematik, dan lever.
Lebih jauh dikatakan, daging tupai tidak mengandung kolesterol, sehingga cocok dikonsumsi oleh masyarakat yang peduli dengan kesehatannya. Umumnya konsumen mengolah daging tersebut, untuk dijadikan sate dan berbagai macam jenis makanan, tergantung selera konsumen.
Daging tupai dapat diolah menjadi berbagai macam makanan seperti sop, sate, rica –rica, stick, dan juga abon.
Dijelaskan, proses pengolahan daging tersebut tidak begitu sulit, sehingga tidak membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. Saat ini konsumen daging tupai tersebut terbatas. Umumnya mereka sudah pernah mengkonsumsi daging tersebut sebelumnya.
“Selama ini konsumennya kebanyakan orang-orang keturunan yang mengetahui khasiat daging tupai tersebut. Setelah mereka memesan, dua atau tiga hari baru bisa saya kirim,” kata seorang penjual daging tupai.
Mengobati Kencing Manis
Banyak orang percaya dan telah membuktikan bahwa daging tupai atau bajing dapat menyembuhkan atau  membantu menyembuhkan penyakit diabetes. Banyak cara yang dilakukan untuk mengolah daging tupai tersebut mengkonsumsinya sebagai obat.
Resep 1
Tahap ada luka : Makan daging bajing (tupai) yang direbus / dimasak setiap hari satu ekor sampai lukanya kering.
Resep 2
Kuliti daging bajing dan belah menjadi empat potong. Setelah itu, rendamlah daging yang telah dipotong ini ke dalam air asam jawa sebagaimana seperti orang yang akan menggoreng. Rendam kira-kira 1 jam lamanya dan tanpa diberi garam barang sedikitpun. Setelah itu goreng dan dimakan dagingnya.
Resep 3
Rebuslah daging tupai (daging jangan dicuci dengan air kalau kondisinya bersih) dengan asam kawak dan gula jawa. Setelah itu boleh digoreng sampai kering.























Fenomena aneh " pisang berbuah di batang"

Telah terjadi fenomena aneh yang terjadi di tempat tinggal ku, tepatnya di desa Minas ( Riau), Pisang ini berbuah di batang. Apakah ini pernah terjadi di daerah anda. Siapa ya yang bisa menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi.. Mohon Komentarnya donk!!!!!

Kamis, 21 Oktober 2010

Hubungan Panjang Antrian dengan Volume Lalu Lintas, Lebar EfektifJalan, Waktu Henti di analisa dengan Metode Statistik Microsoft Excel


HUBUNGAN PANJANG ANTRIAN KENDARAAN TERHADAP BERHENTINYA ANGKUTAN UMUM
1.1  Umum
Dalam masa pembangunan sekarang ini, prasarana jalan merupakan salah satu faktor yang samgat mempengaruhi atau sangat penting sebagai penghubung antara suatu daerah ke daerah lain. Pertumbuhan penduduk serta laju pembangunan yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan prasarana jalan juga ikut meningkat.Dengan adanya prasarana jalan yang baik akan mempermudah pergerakan atau kegiatan perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang di tuju.
Sifat dan perilaku lalu lintas khususnya di kota, sangat bergantung dari sistim pelayanan transportasi, tata ruang kota, dan hasil interaksi antar guna lahan (product land use) yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang ditentukan oleh besaran pembangkit distribusi lalu lintasnya. Distribusi dapat diatur, tetapi dapat juga simpang siur apabila laju pertubuhan setiap persil land use (traffic zone) tidak terkontrol atau terkendali. Sejalan dengan meningkatnya  kebutuhan berbagai jenis dan ukuran kendaraan sebagai salah satu sarana transportasi darat, tampa diimbangi prasarana jalan yang memadai akan menyebabkan semakin padatnya jalan raya dan dapat menyebabkan persoalan lalu lintas yang rumit.
Kemacetan lalulintas (congestion) di jalan terjadi karena ruas jalan tersebut sudah mulai tidak mampu menerima atau melewatkan luapan arus kendaraan yang datang secara lancar. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh hambatan atau gangguan samping (side friction) yang tinggi, sehingga mengakibatkan penyempitan ruas jalan (bottleneck), seperti: parkir di badan jalan (on road parking), berjualan/pasar di trotoar dan badan jalan, pangkalan beca dan angkot, kegiatan sosial yang menggunakan badan jalan (pesta atau kematian) dan pedestrian (berjalan di badan jalan dan menyeberang jalan). Selain itu, kemacetan juga sering terjadi akibat manajemen persimpangan (dengan atau tanpa lampu) yang kurang tepat, ditambah lagi tingginya aksesibilitas ke guna lahan (land use) di sekitar sisi jalan tersebut.

1.2  Latar Belakang Permasalahan
Masalah yang dihadapi di kota-kota besar, khususnya di kota Medan, bukan hanya masalah kekurangan lahan dan masalah sosial yang bermacam-macam bentuknya, tetapi juga masalah transportasi.
Adapun gangguan lalu lintas di kota-kota besar seperti medan,pada umumnya disebabkan karena angkutan umum yang berhenti dan parkir di sembarang tempat.hal ini terjadi disebabkan oleh adanya pemberhentian-pemberhentian yang tidak diatur secara seksama oleh pihak yang berwenang (kecuali pemberhentian bis kota).sehingga menyebabkan terjadinya kemacetan, pelanggaran lalu lintas, bahkan  dapat menimbulkan kecelakaan.
Kemacetan atau tundaan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas yang cukup berbahaya juga sering terjadi akibat perilaku angkutan umum kota (angkot) yang sering nyelonong dan tiba-tiba berhenti di badan jalan untuk menaikkan/menurunkan penumpang dengan alasan “kejar setoran”. Jadi dengan demikian, kemacetan lalu lintas perkotaan terjadi bukan saja karena rasio perkembangan prasarana jalan dengan pertambahan sarana (kendaraan) yang tidak seimbang serta tingkat disiplin pengendara yang sangat rendah.

Dengan demikian, kemacetan lalu lintas perkotaan tidak pantas hanya merupakan bahan “obrolan” masyarakat saja, melainkan sudah harus menjadi perhatian yang serius bagi semua lapisan masyarakat pengguna jalan, khususnya bagi pembuat kebijakan (Pemko dan DPRD), pengawas hukum (Polisi, DLLAJ), peneliti atau perencana transportasi dan pengembangan wilayah kota.

1.3  Tujuan, Maksud, dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian, meliputi :
  • Mengevaluasi pengaruh waktu berhentinya angkutan umum yang mengakibatkan antrian pada kendaraan lain.
  • Mengevaluasi pengaruh lebar efektif jalan dan volume kendaraan yang lewat terhadap panjang antrian yang disebabkan oleh berhentinya angkutan umum

Maksud penelitian, meliputi :
  • Menganalisa karakteristik hubungan panjang antrian terhadap volume kendaraan yang lewat, waktu henti angkutan umum, lebar efektif jalan.
Manfaat penelitian :
  • Menentukan batasan waktu henti angkutan umum sehinnga antrian kendaraan di belakangnya tidak terlalu panjang.
  • Menentukan lebar efektif jalan untuk mengurangi panjang antrian.

1.4  Pembatasan masalah
Karena kompleksnya permasalahan kemacetan dan jumlah antrian maka peneliti mengadakan pembatasan masalah yaitu :
  • Hubungan antara masing-masing variabel (volume, waktu henti, dan lebar efektif jalan), diangap linear.
  • Perhitungan  masing-masing Variabel dan Analisa Regresi dilakukan dengan program Microsoft Excel.
  • Jumlah sampel yang diambil dalam hal ini sebanyak 20 kendaraan (angkutan umum) yang berhenti untuk setiap ruas jalannya.
  • Jenis angkutan yang diamati adalah bis dan angkutan kota (angkot).
  • Kemacetan Total pada jam sibuk (peak hour) tidak menjadi bahan analisa peneliti.
  • Pengamatan volume kendaraan yang lewat dilakukan pada kendaraan bermotor saja.
  • Survey dilakukan pada ruas Jalan :
1.    Jalan Jamin Ginting (di sumber Kampus USU)
2.    Jalan Iskandar Muda (depan plaza Ramayana)
3.    Jalan Sisingamangaraja (depan terminal Amplas)
4.    Jalan Prof H. M. Yamin ( depan Aksara plaza )
5.    Jalan Aksara (samping Aksara Plaza )

1.5  Metodologi
            Data yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa data primer dandata sekunder. Data primer yaitu adalah data yang diambil dilapangan, sedangkan data sekunder adalah data berupa peta jaringan jalan kota Medan.
Metode yang digunakan dalam pengambilan data primer adalah sebagai berikut :
  • Mempersiapkan formulir data yang akan mempermudah pelaksanaan survey dilapangan. Yang isinya berupa data volume, data waktu henti, data lebar efektif jalan, data panjang antrian.
  • Pelaksanaan survey dilapangan yang melibatkan 3 orang pembantu peneliti.

    2.3  Variabel yang ditinjau dalam menentukan panjang antrian
    2.3.1     Volume lalu lintas
    Volume atau kadang disebut arus rata-rata (flow rate) didefenisikan sebagai jumlah kendaraan yang melewati satu titik pengamatan di suatu jalur jalan dengan arah tertentu selama interval waktu tertentu. Baik arus rata-rata maupun volume disini mengunakan interval waktu satu jam. Jenis kendaraan yang akan ditinjau dibagi menurut pembagian kendaraan MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesia):
    ·         Kendaraan Berat      (HV)
    Terdiri dari :mobil penumpang, pick up mobil hantaran, sedan, jeep, dan lain-lain (≤ 5 Ton).
    ·         Kendaraan Ringan   (LV)
    Terdiri dari bus, truk, traktor, semi trailler,trailler (≥5 Ton).
    ·         Sepeda Motor          (MC)
    ·         Kendaraan Tidak Bermotor  (UMC)
    Terdiri dari becak, sepeda, dan lain-lain.
    Satuan yang digunakan adalah SMP (Satuan  Mobil Penumpang)

    Tabel 2 : Angka perbandingan SMP menurut MKJI, 1997

    Jenis Kendaraan
    Nilai smp
    Kendaraan Berat (HV)
    1.3
    Kendaraan Ringan (LV)
    1
    Sepeda Bermotor (MC)
    0.2
    Sumber : MKJI, 1997

    2.3.2     Lebar Efektif Jalan  
    Lebar jalan adalah lebar perkerasan total (bisa termasuk bahu jalan)yang digunakan sebagai prasarana kendaraan bermotor sebagai tempat untuk berlalu lintas.Sedangkan yang dimaksud dengan lebar efektif jalan adalah lebar jalan yang dapat dilewati kendaraan secara efektif . Dengan kata lain lebar efektif adalah lebar jalan dikurangi dengan bagian jalan yang digunakan oleh angkutan umum untuk berhenti.

    2.3.3     Waktu Henti
    Waktu Henti didefenisikan sebagai waktu yang dibutuhkan oleh angkutan umum untuk berhenti pada suatu titik pengamatan tertentu, dengan satuan waktu adalah detik.

    2.4  Analisis Regresi linear
    Regresi linear digunakan untuk analisis dua (atau lebih) variabel numerik. Analisis regresi digunakan untuk membahas prediksi (peramalan) dalam suatu model yang terdapat variabel dependent (Y) dan varibel independent (X).Regresi sederhana mempunnyai satu dependent (Y) dan satu independent (X), sedangkan regresi berganda mempunyai satu variabel dependent dan lebih satu variabel independent.

    2.5.1 Regresi sederhana (Simple Regression)
    Teknik ini dapat digunakan untuk menghasilkan hubungan dalam bentuk numerik,dan untuk melihat bagaimana dua variabel saling berkaitan
    Persamaan regresi sederhana :
                    Y = a + bX       ………………………..…………………… (1)
    Dimana :
                  Y = variabel dependent
                  X = variabel independent
                  a dan b =konstan
    Dimana a dan b diperoleh dengan formula:
             b =      ………………………………… (2)
        
             a = Y- bX             …….…………………………………………... (3)

    2.5.2  Regresi Berganda  (Multiple Regression)
    Disini dijumpai lebih dari satu variabel bebas yang mempengaruhi variabel tidak bebas.
    Persamaan regresi berganda :
    Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3…….  +bnXn       …………………….. (4)
    Dimana:
    Y = variabel dependent
    X = variabel independent
    b0, b1, b2, b3 =konstan

  • Persamaan regresi dengan 2 variabel X
Y = bo + b1X1 + b2X2
Untuk menyelesaikan 3 persamaan dengan 3 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks :
      = b0n+ b1+ b2
= b0+ b1+ b2
= b0+b1+b2

  • Persamaan regresi dengan 3 variabel X
            Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3
Untuk menyelesaikan 4 persamaan dengan 4 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks :
= b0+ b1+ b2 + b3
= b0+b1+b2+b3
=b0 +b1+b2+b3
Dari persamaan 1, 2, 3, diatas dengan metode eliminasi atau matriks dapat diperoleh harga b0, b1, b2, b3.
  • Persamaan Regresi dengan 4 variabel X
Y = bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4
Untuk menyelesaikan 5 persamaan dengan 5 bilangan anu diselesaikan dengan metode matriks :
= b0+ b1+ b2 + b3+b4
= b0+b1+b2+b3+b4
=b0 +b1+b2+b3+b4
=bo+b1+b2+b3+b4

Dari persamaan 1, 2, 3, diatas dengan metode eliminasi atau matriks dapat diperoleh harga b0, b1, b2, b3, b4.

2.6 Sidik Ragam Regresi atau analisa Varians
Ini adalah pengujian keterandalan model dengan mengunakan sidik ragam regresi pada dasarnya merupakan pengujian terhadap nilai-nilai koefisien regresi.Apakah nilai koefisien regresi dari model menduga tersebut dapat diandalkan untuk meramalkan besarnya hasil (nilai Y) ataukah tidak? Terdapat dua kemungkinan dari hasil pengujian ini, yaitu nilai koefisien regresi tidak dapat diandalkan (β1=b=0)dan koefisien regresi dapat diandalkan (β1≠0).oleh karenanya hipotesis yang digunakan dalam pengujian ini dirumuskan sebagai berikut :
            Ho : β1 = 0 lawan H1 : β1 ≠ 0
Keterandalan model ini akan diketahui dari hasil keputusan pengujian hipotesis tersebut. Ditolak atau diterima, dengan mengunakan uji F apabila Ho diterima dan H1 diterima maka berarti β1 tidak sama dengan nol dan model dapat diandalkan. Bila Ho ditolak dan H1 diterima  maka berarti β1 tidak sama dengan nol dan model dapat diandalkan .Cara pengujian adalah dengan menggunakan rumus-rumus yang disusun dalam suatu tabel untuk mempermudah cara pengerjaannya dan cara membacanya seperti disajikan ditabel 3 ini :
Tabel 3 Sidik Ragam Regresi
Sumber Keragaman      db          JK            KT            Fhitung          
Regresi                       p – 1          JKR        KTR          
Sisa                            n – p           JKS        KTS
Total                           n – 1          

Keterangan
n = total sampel
p =  jumlah variabel
JKT (Jumlah Kuadrat Total)
JKR (Jumlah kuadrat Regresi)
JKS (Jumlah Kuadrat Sisa)
KTR (Jumlah Tengah Regresi)
KTS (Jumlah Tengah Sisa)



Rumus - rumus
JKT = -      …………………………………………………(8)
JKR = b1(- ) ...……………….……………. ……....(9)
JKR = JKT-JKR = (- ) – { b1(- )} …(10)
JKS = JKT - JKR
KTR =                    ………………………………………………  (11)
KTS =                    ………………………………………………..(12)

2.7  Kriteria Statistik
Untuk memperoleh hasil regresi yang terbaik maka harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
·         Uji R (Koofisien Determinasi)
R= =         .. ………………..(13) 
Dimana :
JKR = jumlah kuadrat regresi 
JKT = jumlah kuadrat total
Nilai  R ini mempunyai range antara 0 sampai 1 atau (0 ≤ R≤ 1).semakin besar R(mendekati satu) semakin baik hasi regresi itu,semakin mendekati nol maka variabel independent secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel dependent.
·         Uji F
Uji F ini dlakukan unttuk melihat pengaruh variabel independent secara keseluruhan terhadap variabel dependent.Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F tabel.Nilai F hitung diperoleh dengan rumus :
F =  :  = ……(14)
Dimana : n = jumlah sampel
               p =  jumlah variabel
               KTR = kuadrat tengah regresi
               KTS = kuadrat tengah sisa
Jika nilai Fhitung ≤ Ftabel maka Ho diterima dan H1 ditolak.
Jika nilai Fhitung > Ftabel maka Ho ditolak dan  H1 diterima
·         Uji t
Uji t dilaksanakan untuk melihat signifikan dari pengaruh independent secara individu terhadap variabel dependent dengan menganggap variabel lain bersifat konstan. Uji ini dilaksanakan dengan membandingkan t-hitung dengan t-tabel.
Jika nilai t hitung ≤ t tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak.
Jika nilai t hitung > t tabel maka Ho ditolak dan  H1 diterima
t- hitung di hitung dengan mengunakan formula:
t = ……………………………………………………………...(15)
diamana :
b = koefisien variabel
se = standard error

2.8 Pengujian Hipotesis
Menguji ada tidaknya hubungan linear antara variabel independent terhadap variabel dependent, perlu derumuskan terlebih dahulu karena ini merupakan bagian yang terpenting dalam analisis regresi dalam analisi regresi.Adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut :
H0 : b = 0 (tidak ada hubungan linier antara variabel independent dan variabel dependent)
H1 : b ≠ 0 (ada hubungan linier antara variabel inependent dan variabel dependent
Dimana :
H0 = Data yang diharapkan untuk di tolak
H1 = Data yang diharapkan untuk diterima
Uji ini diakaitkan dengan uji nyata dari garis regresi yang diperoleh dari prediksi nilai pengamatan variabel dependent.Selain uji diatas , kita masih menguji nilai koefisien b hasil dari prediksi nilai β yang kita peroleh dari sampel,adapun hipotesisnya adalah sebagai berikut:
            H0 : b = 0 (koefisien regresi tidak signifikan)
            H1 : b ≠ 0 (koefisien regresi signifikan)
2.9 Korelasi
Korelasi adalah salah satu teknik statistik yang digunakan untuk mencari hubungan antara dua variabel atau lebih yang sifatnya kuantitatif, midalnya kita mempunyai dua variabel , variabel Y dan X kita ingin menguji apakah hubungannya berbanding lurus atau terbalik atau bahkan tidak mempunyai hubungan sama sekali.
 Dibawah ini akan diberikan suatu grafik yang menunjukan apakah antara dua variabel itu berhubungan atau tidak
                                                         


 


                          
                           (a)                                                         (b)
                                            


                          
(c)                                                                             (d)  
Gambar 2 : Grafik hubungan dua variabel
Dari grafik diatas dapat disimpulkan :
·         Grafik (a) dan (b) adalah grafik yang menyatakan hubungan antara 2      variabel.
·         Grafik (c) dan (d) adalah grafik yang menyatakan tidak ada hubungan antara 2 buah variabel yang bersifat linier.
2.9.1 Koefisien Korelasi.
Ukuran yang biasa digunakan untuk mengukur hubungan kekuatan adalah koefisien korelasi Pearson atau biasa disebut Metode Pearson Product Moment, yang disimbolkan dengan huruf “r”.Rumusan matematisnya adalah sebagai berikut:

    r =

Harga absolut dari r menunjukan kekuatan hubungan linier. Harga korelasi berada pada interval -1 ≤ r ≤1. Tanda – dan + menunjukan arah hubungannya.
  • Tanda + adalah perubahan pada satu variabel akan diikuti perubahan variabel yang lain dengan arah yang sama, misalnya : satu variabel mengalami kenaikan akan diikuti kenaikan variabel lain, begitu juga sebaliknya.

  • Tanda – adalah perubahan pada satu variabel akan diikuti perubahan variabel yang lain dengan arah yang berlawanan, misalnya : satu variabel mengalami kenaikan akan diikuti penurunan variabel yang lain, begitu juga sebaliknya.

  • Korelasi nol adalah kenaikan nilai variabel yang satu kadang-kadang disertai penurunan variabel yang lain, atau kadang-kadang diikuti kenaikan variabel yang lain, arah hubungannya tidak teratur, kadang-kadang dengan arah yang sama, kadang-kadang belawanan (tidak ada hubungan yang linier)
Pejelasannya dengan grafik dibawah ini :

                                                         


                          
                 Korelasi +1                                                Korelasi -1
                                                        


                          
                 Korelasi nol

Gambar 3 : Grafik ukuran korelasi



2.9.2  Interpretasi Korelasi.
Untuk mejelaskan tentang nilai korelasi +1 maupun -1 dapat dijelaskan menurut pendapat Young (1982), ukuran korelasi adalah sebagai berikut:
·         0.70 – 2.00 (baik plus atau minus menunjukkan adanya derajat asosiasi yang tinggi.
·         0.40 – 0.70 (baik plus atau minus) menunjukkan hubungan yang subtansial.
·         0.20 - < 0.40 (baik plus maupun minus) artinya ada  korelasi yang rendah
·         <0.20 (baik plus maupun minus) artinya korelasi dapat diabaikan.

2.9.3 Hubungan antara koefisien Korelasi dengan koefisien Determinasi
Apabila r adalah koefisien korelasi yang menyatakan hubungan antara variabel X dan Y, maka ada korelasi 100 %. rpersen perubahan daripada perubahan daripada Y disebabkan oleh variabel X (disebut koefisien determinasi). Bila dalam penelitian kita mendapatkan koefisien korelasi sebesar r = 0.8 maka 64%dari perubahan nilai pada variabel Y disebabkan disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada variabel X. misalkan r=0.4 maka 16% dari perubahan nilai pada variabel Y disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada variabel X
Berdasarkan pengertian diatas dapat diakatakan bahwa korelasi dengan r=0.8 adalah 4 kali lebih kuat dari korelasi r=0.4.
Besarnya koefisien determinasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus :                                                                                              
R =          ; atau      R=
dimana :
JKR = Jumlah Kuadrat Regresi
JKT = Jumlah Kuadrat Tengah

Sedangkan koefisien korelasi (r) :
r =  ; atau     r   =        …………………………………….(16)

Salah satu contoh formulir pengamatan :

Tabel 4.1 : Rangkuman Data hasil pengamatan pada jalan Jamin Ginting, depan Sumber Nongko USU

NO
PANJANG ANTRIAN
VOLUME LALU LINTAS
LEBAR EFEKTIF
WAKTU HENTI


(METER)
(SMP)
(METER)
(DETIK)


1
19.00
1.60
3.60
7.25

2
19.00
0.80
3.05
8.12

3
17.10
0.20
3.90
7.05

4
13.90
1.00
3.25
7.35

5
19.00
1.70
4.25
8.01

6
13.90
1.80
4.50
8.03

7
22.30
1.60
4.05
14.26

8
13.90
0.40
3.00
12.78

9
13.90
1.40
4.25
6.18

10
19.00
1.50
4.25
13.15

11
19.30
1.60
3.70
12.69

12
9.20
1.20
4.10
5.60

13
23.20
0.40
3.20
13.60

14
4.60
0.60
3.30
5.20

15
19.60
1.00
3.30
9.45

16
14.40
1.20
3.50
8.25

17
24.50
1.90
4.10
10.25

18
21.70
1.70
3.75
10.50

19
13.80
0.80
3.65
8.39

20
18.50
2.00
3.65
9.24



Keterangan :
·         Lebar jalan 7.5 Meter
·         Hasil perhitungan selengkapnya pada lampiran

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Ø  Kesimpulan :
1.    Berdasarkan Pengolahan data didapatkan suatu persamaan  antara panjang antrian, volume kendaraan, lebar efektif dan waktu henti sebagai berikut:
             Y = - 0.3956X1  - 0.0797X2 + 1.52607X3 + 4.27012
             Dimana :
     Y   = Panjang Antrian
     X1 = Volume Lalu - Lintas
     X2 = Lebar Efektif Jalan
     X3 = Waktu Henti
2.    Berdasarkan perhitungan koefisien korelasi dapat diambil kesimpulan :
Koefisien Korelasi ( R ) antara Volume Kendaraan, Lebar Efektif, Waktu Henti dan Panjang Antrian.

Panjang Antrian
Volume lalu lintas
Lebar Efektif
Waktu Henti
Panjang Antrian
1



Volume lalu lintas
0.07601
1


Lebar Efektif
-0.2402
-0.0885
1

Waktu Henti
0.84466
0.15594
-0.1569
1

a)    Satu-satunya faktor yang berpengaruh secara signifikan pada panjang antrian hanyalah waktu henti angkutan umum.Semakin lama angkutan umum berhenti semakin panjang antrian kendaraan.
b)    Tidak ada keterkaitan hubungan linear  antara volume kendaraan, lebar efektif dan waktu henti.
c)    Volume kendaraan dan lebar efektif jalan tidak mempunyai hubungan linear terhadap panjang antrian, karena  koefisien korelasinya terlalu kecil.

d)    Diperoleh hubungan panjang antrian dan waktu henti yang di paparkan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Lokasi Pengamatan
Persamaan Panjang Antrian
Nilai F
Nilai t
(untuk x)
Jl.Jamin Ginting
Y =  2.475 + 1.489X
42.57
6.52
Jl. Iskandar Muda
Y =  2.141 + 1.653X
45.41
6.74
Jl. Sisingamangaraja
Y =  1.690 + 1.640X
58.77
7.67
Jl. Prof. H. M. Yamin
Y =  7.949 + 1.145X
58.76
5.87
Jl. Aksara
Y =  4.843 + 1.440X
52.89
7.27
Keterangan :
·         Y = Panjang Antrian
·         X = Waktu Henti
·         Model Grafik dapat di lihat pada lembar lampiran